Komoditi nonmigas Kalsel

BAB III

DAYA SAING KOMODITI EKSPOR NON-MIGAS

PROPINSI KALIMANTAN SELATAN DI PASAR GLOBAL.

 

Keunggulan daya saing atau competitive adventage suatu bangsa, menurut Michael Porter dalam bukunya The Competitive Adventage of Nations (New York, The Free Press, 1990), dibentuk oleh norma-norma, budaya, serta struktur ekonomi dan kelembagaan di negara tersebut. Keunggulan-keunggulan yang berupa sumber-sumber daya bangsa tersebut, kondisi perekonomiannya, keberadaan pasokan yang kompetitif secara internasional, serta kebijakan pemerintahannya yang menumbuhkan daya saing bisnis harus dimiliki. Tanpa hal tersebut, suatu  bangsa tidak akan memiliki keunggulan daya saing dan akan tertinggal[1].

Bab ini akan membahas mengenai profil daerah Kalimantan Selatan serta komoditas ekspor yang dimilikinya. Data berupa potensi daerah serta keterkaitan antara satuan kegiatan ekonomi/sektor (inter-industry relationship) akan disampaikan dalam bab ini dan diharapkan dapat diperoleh gambaran awal tentang produk dan sektor ekonomi yang menjadi unggulan daerah. Selain itu, penetapan Kawasan Andalan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayan Nasional (RTRWN) juga akan dibahas untuk melihat peluang yang bisa dimanfaatkan dalam rangka menunjang peningkatan ekspor non migas Kalsel.

 

 

 

 

A. Komoditi Non Migas Kalimantan Selatan.

a. Profil Daerah Kalimantan Selatan.

Daerah Propinsi Kalimantan Selatan, selain daerahnya subur dan sebagian besar lahannya telah dimanfaatkan untuk keperluan pertanian, perkebunan, dan kehutanan, juga memiliki sumber daya alam yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi komoditi ekspor. Sumber daya alam yang dimiliki antara lain adalah tambang minyak, tambang intan, platina, batu bara, emas, biji besi, nikel, mangan, dan bahan galian lain, seperti marmer, pasir kuarsa, fosfat, kaolin, batu gamping, dan batu gunung. Masih terdapat pula sumber daya perikanan dan kelautan, serta hasil hutan yang sangat potensial untuk dikembangkan lebih maju lagi[2].

Propinsi Kalimantan Selatan dengan Ibukotanya Banjarmasin terletak di Sebelah Selatan Pulau Kalimantan dengan batas-batas : Sebelah Barat dengan Propinsi Kalimantan Tengah, Sebelah Timur dengan Selat Makasar, Sebelah Selatan dengan Laut Jawa dan di Sebelah Utara dengan Propinsi Kalimantan Timur. Propinsi Kalimantan Selatan secara geografis terletak diantara 114 19 ” 33 ” BT – 116 33 ’28 BT dan 1 21’49” LS 1 10″14″LS, dengan luas wilayah 37.377,53 km2 atau hanya 6,98 persen dari luas Pulau Kalimantan. Daerah yang paling luas di Propinsi Kalsel adalah Kabupaten Kotabaru dengan luas 13.044,50 km2, kemudian Kabupaten Banjar dengan luas 5.039,90 km2 dan Kabupaten Tabalong dengan luas 3.039,90 km2, sedangkan daerah yang paling sempit adalah Kota Banjarmasin dengan luas 72,00 km2. [3]

Kalimantan Selatan secara geografi terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan dengan luas wilayah 37.530,52 Km2 atau 3.753.052 ha. Sampai dengan tahun 2004 membawahi kabupaten/kota sebanyak 11 kabupaten/kota dan pada tahun 2005 menjadi 13 kabupaten/kota sebagai akibat dari adanya pemekaran wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara dengan Kabupaten Balangan dan Kabupaten Kotabaru dengan Kabupaten Tanah Bumbu.

Luas wilayah propinsi tersebut sudah termasuk wilayah laut propinsi dibandingkan propinsi Kalimantan Selatan. Luas wilayah masing-masing Kabupaten Tanah Laut 9,94 %; Tanah Bumbu 13,50%; Kotabaru 25,11%; Banjar 12,45%; Tapin 5,80%; Tabalong 9,59%; Balangan 5,00%; Batola 6,33%; Banjarbaru 0,97% dan Banjarmasin 0,19%.

Dilihat dari tata guna lahan, sebagian besar areal di Kalimantan Selatan berupa hutan atau sektor kehutanan. Tata guna lahan tersebut adalah sebagai berikut : areal hutan seluas 17.427 km² atau 47,7%, semak belukar 4.786 km² atau 16,4%, ladang 2.302 km² atau 6,3%, sawah 4.128 km² atau 11,3%, perkebunan 840 km² atau 2,3%, perairan darat 256 km² atau 0,7%, pemukiman 585 km² atau 1,65%, selebihnya 183 km² atau 0,5% untuk budi daya lainnya[4].

Berkaitan dengan kondisi perekonomian daerah Kalimantan Selatan tersebut, diketahui bahwa hampir sebagian besar kegiatan usaha dari penduduk Kalimantan Selatan bergerak pada perekonomian rakyat yang tinggal di daerah pedesaan dengan mata pencaharian di sektor pertanian tanaman pangan, perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, dan industri kecil, serta perdagangan skala kecil, dengan kemampuan pengelolaan serta didukung teknologi yang sangat terbatas.

Berdasarkan UU No.3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (Lembaran Negara RI Tahun 1982 No. 7, Tambahan Lembaran Negara RI No. 3214) setiap perusahaan yang beroperasi dalam wilayah Hukum Negara Kesatuan RI, diwajibkan mendaftarkan usahanya pada kantor-kantor Pendaftaran Perusahaan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten/Kota.

Sampai dengan bulan Nopember tahun 2005 jumlah unit usaha yang memenuhi ketentuan UU No. 3 Tahun 1982 tersebut telah mendaftarkan unit usahanya pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan, berjumlah 33.879 unit usaha. Jika dibandingkan dengan keadaan pada tahun 2000, saat mulai diberlakukan Undang-undang Wajib Daftar Perusahaan, yang berjumlah 25.229 unit usaha, berarti selama periode 5 (lima) tahun, terjadi peningkatan sebanyak 8.650 unit usaha atau meningkat rata-rata 6,86% pertahun[5].

Tabel 3.1

Unit usaha yang tersebar diseluruh Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan sampai tahun 2005 (data s/d Nopember)

UNIT USAHA JUMLAH
Perseroan Terbatas (PT) 2.916 unit
Persekutuan Komodite (CV) 7.869 unit
Firma (FI) 36 unit
Perorangan (PO) 21.707 unit
Koperasi (Kop) 1.088 unit
Perusahaan Lainnya 263 unit
J u m l a h 33.879 unit

Sumber : Disperindag Propinsi Kalimantan Selatan.

Selain dibidang Industri, dalam rangka upaya peningkatan ekspor non migas, dibangun Pusat Pelatihan Promosi Ekspor Daerah (P3ED) sebagai sarana/wadah pendidikan dan pelatihan para UKM, serta para calon eksportir baik yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, maupun Kalimantan Timur.

Kegiatan P3ED ini merupakan hasil kerjasama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan dengan Badan Pengembangan Ekspor Nasional BPEN Departemen Perdagangan dan Japan International Cooperation Agency (JICA), Badan resmi Pemerintah Jepang dengan tugas utama melaksanakan kerjasama teknik ke negara berkembang dalam bentuk hibah. Untuk seluruh Indonesia P3ED hanya dibangun di Provinsi Jawa Timur, Medan dan Ujung Pandang serta di Kalimantan Selatan[6].

Pada sisi lain ada masalah utama dalam pembangunan ekonomi daerah Kalimantan Selatan di masa datang yakni menurunnya ketersediaan sumber daya alam, karena adanya pemanfaatan alam yang tidak dikelola dengan baik. Rusaknya lingkungan hidup yang semakin meluas, seperti kerusakan hutan, kerusakan lahan karena pertambangan batubara dan bahan galian lainnya, kerusakan ekosistem perairan laut, seperti hutan mangrove dan terumbu karang serta pencemaran sungai. Oleh karena itu tema penting pembangunan ekonomi di Kalimantan Selatan adalah bagaimana memanfaatkan secara optimal dan mempertahankan sumber daya alam Kalimantan Selatan, serta mewujudkan lingkungan hidup yang memadai, sehingga Kalimantan Selatan akan mengalami pertumbuhan yang relatif tinggi serta berkelanjutan.

 

b. Komoditi Unggulan Kalimantan Selatan

Yang dimakud keunggulan adalah adanya kelebihan yang melekat pada suatu komoditi yang dihasilkan suatu negara dibandingkan dengan komoditi serupa yang di produksi di negara lain. Masalah keunggulan, baik keunggulan mutlak (alamiah), keunggulan komparatif (efisiensi), maupun keunggulan teknologi (kapasitas produksi), menjadi dasar yang sangat menentukan daya saing suatu komoditi dalam memasuki pasar internasional dan merupakan masalah makro yang harus ditanggulangi secara nasional dan menyeluruh, sedangkan masalah daya saing menyangkut masalah mikro perusahaan, yang terkait erat dengan masalah kunggulan yang bersifat makro[7].

Tahapan pertama dalam penyusunan produk unggulan daerah menggunakan analisis tabel data berupa uraian statistik yang menyajikan informasi tentang potensi daerah serta keterkaitan antara satuan kegiatan ekonomi/sektor (inter-industry relationship) dalam satu wilayah pada suatu periode waktu tertentu. Pada tahapan ini diharapkan dapat diperoleh gambaran awal tentang produk dan sektor ekonomi yang menjadi unggulan daerah.

Tahap kedua adalah analisis deskriptif yang mengkombinasikan output hasil analisis tahap pertama, hasil inventarisasi komoditi yang telah memasuki pasar ekspor dan program produk unggulan dari dinas teknis. Produk unggulan menurut dinas teknis merupakan produk-produk yang dinilai memiliki keunggulan tertentu dan menjadi target pengembangan untuk program peningkatan ekonomi masyarakat. Pengembangan produk unggulan diterjemahkan oleh dinas dengan kegiatan-kegiatan pembangunan yang kemudian dituangkan dalam APBD. Dengan dua tahapan analisis ini diharapkan dapat diperoleh dasar yang tepat untuk menentukan produk unggulan daerah Kalimantan Selatan. Selanjutnya, penentuan produk unggulan dilakukan dengan memilih komoditi yang paling dominan dalam sektor unggulan tersebut[8].

Potensi daerah Propinsi Kalimantan Selatan berdasarkan sektor antara lain sebagai berikut:

1.      Perikanan & Kelautan

 

Tabel 3.2

Potensi sub sektor Perikanan

 

No Sumber Daya Luas Lahan yang Tersedia Potensi Lestari Per Tahun Tingkat Pemanfaatan Tahun 1999 Belum di
Manfaatkan
1 Ikan Dilaut 120.000 Km 180.000 Ton 1.468 Ton 88.532 Ton
2 Perairan Umum 1.000.000 Ha 90.000 Ton 60.245,1 Ton 29.754Ton
3 Budidaya Tambak 70.560 Ha 2.130,7 Ton 68.237 Ha
4 Budidaya Kolam 2.400 Ha 467 Ton 2.072 Ha
5 Keramba 1.000.000 Ha 1.183 Ton 998.000 Ha

Sumber : http://www.kalselprov.go.id

Potensi sumber daya ikan dilaut dengan luas wilayah penangkapan 120.000 Km2 dan wilayah garis pantai sepanjang 1.331.091 km memiliki hasil tangkapan sebesar 106.070,3 ton pada tahun 2003. Usaha penangkapan saat ini baru pada Jalur I (3 mil dari pantai) sedangkan jalur II (7-12 mil dari laut) masih belum dimanfaatkan. Adapun diperairan umum, potensi sumber daya ikan memiliki luas perairan 1.000.000 Ha yang terdiri dari : Sungai 628.220 Ha, Rawa 292.580 Ha, dan Waduk 9.200 Ha. Selain itu, luas areal untuk pertambakan seluas 53.382 ha saat ini baru dimanfaatkan seluas 4.860,6 ha. Komoditas unggulan yang dapat dikembangkan antar lain adalah Udang windu, Udang Galah, Kakap merah, Kepiting, Kodok, Bakut/Betutu, Teripang, dan Rumput laut[9].

 

2.      Kehutanan

 

Tabel 3.3

Fungsi Hutan Kalimatan Selatan

 

NO FUNGSI HUTAN JUMLAH LUAS (HA) % TERHADAP LUAS WILAYAH KALSEL
1 Hutan Lindung 554.139 14,77
2 Hutan Suaka Alam/Wisata 175.570 4,68
3 Hutan Produksi Terbatas 155.263 4,14
4 Hutan Produksi Tetap 688.884 18,36
5 Hutan Produksi Konversi 265.638 7,08
JUMLAH TOTAL 1.893.494 49,03

Sumber : http://www.kalselprov.go.id

 

Gambaran umum keadaan hutan di Kalimantan Selatan adalah sebagai berikut:

1.      Hutan Mangrove, jenis vegetasi yang mendominasi ialah Avicenia sp, Rhizophora sp dan Bruguera sp.

2.      Hutan Rawa, didominasi oleh jenis Nyatoh (palagium sp), Terentang (Campnosperma sp), Kempas (Kompassia sp), Palawant (Tristania sp), Lanan/Meranti Rawat (Shorea spp) dan Nipah (Nypa Fruektican)

3.      Hutan Gambut, didominasi oleh jenis Ramint (Gonystilus sp) dan Meranti Rawa (Shorea spp)

4.      Hutan Hujan Daratan Rendah dan Hutan Hujan Daratan Tinggi, didominasi oleh jenis Famili Didpterocarpaceae yang terdiri dari jenis-jenis Meranti (Shorea spp), Kruing (Dipterocarpus spp) dan Kapur (Dryobalanops spp)

Jenis-jenis spesifikasi yang ada selain dari jenis tersebut di atas ialah Ulin (Euisideroxylon zwageri), Agathis (Agathis spp) dan Kayu Kuku (Pericopsis moniana).

Tabel 3.4

Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI)

 

HUTAN TANAMAN INDUSTRI RENCANA (HA) REALISASI (HA)
Hutan Tanaman Industri (Hti) Pulp 234.495,31 148.198,87

(63,19 %)

Hutan Tanaman Industri Pertukangan 64.345,30 35.085,49

(54,52 %)

Hutan Tanaman Industri 23.907,11 17.678,98

(73,94%)

JUMLAH 322.747,72 200.963,34
(62,26%)

 

Tabel 3.5

Daftar HPH di Kalimantan Selatan

KPH / CDK NAMA HPH LUAS AREAL (HA)
Kotabaru – Pt. Kodeco Tim
– PT. Inhutani
– PT. Pamukan Jaya
136.000
229.000
80.000
Tanah Bumbu – PT. Sumpol Timber
– PT. Inhutani II Pagatan
– PT. Alamuda
63.826
80.000
44.000
Kayu tangi – PT. Hendratna Timber
– PT. Hutan Kintap
– PT. Emil Timber
53.500
74.795
40.200
Hulu Sungai – PT. Aya Timber
– PT. Fass Forest
94.000
54.000
  JUMLAH 949.621

 

Kebijaksanaan dengan langkah-langkah yang ditempuh dalam pembangunan kehutanan adalah dengan memanfaatkan sumber daya hutan secara optimal dengan menjaga kelestariannya, baik dengan program Hutan Tanaman Industri (HTI), Hak Pengelolaan Hutan (HPH), reboisasi dan dengan mempertahankan luas areal kawasan hutan sesuai dengan Tata Ruang Provinsi Kalimantan Selatan (TRPKS)[10].

Tabel 3.6

Produksi Industri Kayu di Kalimantan Selatan

Jenis Industri Jumlah (Unit) Kapasitas Produksi (M3) Kebutuhan Bahan Baku (M3)
Industri HPH 484,558 91,235 393,323
– Plywood 14 949,445 2,450,350
– Black Board 8 79,210 137,900
– particle Board 2 110,500 122,500
– Sawmill 18 480,250 1.119.600
– wood Working 10 124,602 142,026
Industri Non HPH      
– Sawmill 108 510,705 1.109,760
– Wood Working 13 160,700 25,400
  173 2,145,418 5.107,436

 

Kawasan hutan yang dapat dibudidayakan seluas 1.108.740 Ha atau 29,55 % dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan yang terbagi menjadi Hutan Produksi Terbatas (HPT) 155.268 Ha (4,14 %), Hutan Produksi Tetap (HP) 687.834 Ha (18,33 %)[11].

 

3.      Perkebunan

Perkebunan yang ada di Kalimantan Selatan terdiri dari Perkebunan Rakyat, Perkebunan Besar Swasta dan Perseroan Terbatas Perkebunan (PTP). Sedangkan komoditi Perkebunan Besar Swasta dan PTP adalah karet, tebu, kelapa dalam, kelapa hibrida, kelapa sawit, coklat, lada dan jahe, sedangkan komoditi perkebunan rakyat meliputi hampir semua jenis komoditi kecuali kelapa sawit.

Pengembangan lahan perkebunan di Kalimantan Selatan per Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut :

Tabel 3.7

Potensi Lahan Perkebunan di Kalsel setiap Kab/Kota

KAB/KOTA LUAS LAHAN YANG DICADANGKAN LUAS REALISASI PERKEBUNAN (HA) LAHAN YANG BELUM DIKEMBANGKAN
Kotabaru 484,558 91,235 393,323
Tanah Laut 148,886 29,797 119.089
Banjar 89,227 36,250 53,997
Tapin 31,375 21,665 9,720
HSS 18,750 18,132 618
HST 37,945 20,996 16,997
HSU 71,756 33,832 37,924
Tabalong 72,590 48,916 23,674
Barito Kuala 17,564
Banjarmasin 1,204
KALSEL 955,085 318,551 636,534

 

Kalimantan Selatan mempunyai potensi wilayah perkebunan yang dapat dikembangkan untuk bermacam-macam komoditi, seperti Karet, Kelapa Dalam, Kelapa Hibrida, Kelapa Sawit, Lada, Kayu Manis, Rosella, dan lain-lain. Kawasan untuk pengembangan perkebunan masih tersedia seluas 636,534 Ha, ini merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan komoditi perkebunan. Kawasan tersebut belum termasuk daerah gambut. Lahan basah yang terdapat di Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Utara, dan Hulu Sungai Selatan. Sedangkan peluang investasi di bidang Perkebunan di Kalimantan Selatan adalah Hutan Tanaman Industri. Potensi komoditas unggulan perkebunan antara lain :

1.      Karet

Luas areal perkebunan karet 141.498,36 Ha terinci sebagaimana tabel berikut ini :

Tabel 3.8

Potensi Karet di Kalimantan Selatan

No Jenis Usaha Luas Areal (Ha) Luas Tanaman Menghasilkan (TM) Luas Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
1. Perkebunan Rakyat 125.281,36 74.811,46 50.469,90
2. Perkebunan Besar Negara 10.116,00 7.399,00 2.717,00
3. Perkebunan Besar Swasta 6.101,00 998,00 5.103,00
Total luas areal 141.498,36 83.208,46 58.289,90

 

Jenis produk karet yang dihasilkan berupa karet kering (RSS) dan SIR, lateks pekat (CL) , dengan rata-rata produktivitas karetnya mencapai 1.230 kg/Ha , dengan didukung Pabrik Crumb Rubber sebanyak 12 unit dengan kapasitas terpasang sebesar 91.400 Ton/hari, dan Pabrik Sit berjumlah 6 unit dengan kapasitas terpasang sebesar 21.500 ton/hari. Selain itu terdapat juga bangunan UPH karet sebanyak 1.163 unit. Pabrik Lateks Pekat dengan kapasitas 60.000 lt/kg.

Pemasaran lateks produk karet berupa RSS dan SIR dibawa ke Pulau Jawa untuk domestik sedangkan ekspor ke Singapura.

2.      Kelapa Sawit

Luas areal 136.990 Ha yang meliputi Perkebunan Besar Swasta dan Perkebunan Besar Negara serta Perkebunan Rakyat dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 3.9

Potensi Kelapa Sawit di Kalimantan Selatan

No Jenis Usaha Luas Areal (Ha) Luas Tanaman Menghasilkan (TM) Luas Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
1. Perkebunan Rakyat 11.791,00 1140,00 11.651,00
2. Perkebunan Besar Negara 1.500,00 1.500,00
3. Perkebunan Besar Swasta 123.699,00 63.632,00 60.207,00
Total luas areal 136.990,00 63.632,00 73.358,00

Dengan Tanaman Menghasilkan (TM) seluas 63.632 Ha dicapai produksi sebanyak 99.075,76 Ton untuk Perkebunan Rakyat dan Perkebunan Besar Swasta sehingga rata-rata produktivitas kelapa sawit mencapai 3.634 Kg/Ha.

Produksi kelapa sawit yang dihasilkan berupa Crud Palm Oil (CPO) dengan dukungan pabrik CPO sebanyak 7 buah/unit dengan kapasitas terpasang sebesar 360 ton/jam dan selanjutnya diproses di Surabaya sehingga menjadi minyak goreng dan lain sebagainya.

3.      Kelapa Dalam

Luas areal komoditas ini 37.438,65 Ha hanya terdapat pada perkebunan rakyat dengan rincian Tanaman Menghasilkan (TM) seluas 30.099 Ha dicapai produksi kopra sebesar 33.791,53 ton yang rata-rata produktivitasnya mencapai 1.124 Kg/Ha dan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) seluas 7.739,65 Ha. Jenis produksi yang dihasilkan berupa kelapa segar, Nata De Coco dan minyak goreng, yang didukung pabrik minyak goreng 4 buah yang berada di Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, Hulu Sungai Selatan, Barito Kuala dan Kota Banjarmasin dengan kapaitas pabrik sebesar 29,9 ton/hari berupa kopra. Sedangkan jangkauan pemasaran saat ini hanya di wilayah lokal Kalsel dan Propinsi Kalimantan Tengah

4.       Kopi

Luas areal 7.265,60 Ha dan merupakan Perkebunan Rakyat dengan rincian Tanaman Menghasilkan (TM) seluas 6.139,50 Ha dan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 1.126 Ha. Dengan Luas Tanaman Menghasilkan tersebut dicapai produksi berupa biji kopi kering sebanyak 4.992 ton dengan rata-rata produktivitasnya 801,69 Kg/Ha.

Jenis produk yang dihasilkan berupa biji kering dan bubuk, bubuk biokopi dan bubuk kopi pasak bumi yang berasal dari Kabupaten Tabalong yang sudah dikenal masyarakat Kalsel didukung 1 buah unit pengolahan hasil kopi.

Hasil produksi dipasarkan ke propinsi tetangga yakni Propinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

5.      Aren

Perkebunan Aren hanya didukung oleh Perkebunan Rakyat dengan luas areal 1.242 Ha yang terdiri dari Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) seluas 266 Ha dan Tanaman Menghasilkan (TM) 976 Ha. Dengan produksi berupa gula merah sebesar 434,26 Ton dengan rata-rata produktivitas mencapai 444,94 Kg/ha, serta berupa produk kolang-kaling segar.

Pemasaran produk gula merah selain untuk kebutuhan lokal juga dipasarkan ke Propinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

6.      Obat – Obatan

Jenis komoditas obat-obatan yang dominan dikembangkan didaerah Kalimantan meliputi komoditas jahe, kencur, dan kunyit dengan rincian sebagaimana tabel berikut ini

 

 

 

 

Tabel 3.10

Potensi Tanaman Obat-obatan

No Jenis Usaha Luas Areal (Ha) Luas Tanaman Menghasilkan (TM) Luas Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
1. Jahe 484,00 139,00 345,00
2. Kencur 172,00 40,00 132,00
3. Kunyit 242,00 69,00 173,00
  Jumlah 898,00 248,00 650,00

 

 

Jenis produk yang dihasilkan ketiga tanaman obat-obatan tersebut tidak saja berupa Rimpang Kering tetapi dapat juga berupa sirup kencur, instan jahe dan temulawak. Bahan baku dari komoditas obat-obatan ini juga ditampung oleh 3 unit pabrik Jamu di Kalsel yaitu Singa Banteng, Sarigading dan Rumput Fatimah, sehingga jamu yang sudah dikemas dijual ke daerah Jawa dan Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur sekaligus untuk kebutuhan warga lokal (Kalsel).

 

4.      Pertambangan

Bahan tambang atau galian di Provinsi Kalimantan Selatan merupakan sumber daya alam yang sangat potensial untuk digunakan sebagai bahan energi dan industri. Bahan galian tersebut dikelompokan menjadi 2 (dua), yaitu bahan galian logam dan non logam. Adapun potensi bahan galian tersebut adalah sebagai berikut :

 

 

 

A.    Bahan Galian Logam

a.       Nikel

Terdapat di kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Banjar dengan jumlah cadangan di perkirakan sebesar 39.958.417 Ton .

b.      Mangan

Terdapat di Kabupaten Tanah Laut, Tapin, dan Hulu Sungai Selatan dengan jumlah cadangan 188.530 Ton

c.       Krotin

Terdapat di kabupaten Kotabaru, Tanah Laut, dan Banjar dengan jumlah cadangan sebesar 106.500 Ton

B.       Bahan Galian Non Logam

a.       Minyak Bumi

Terdapat di cekungan Barito di daerah Tanjung Raya Kabupaten Tabalong.

b.      Batubara

Terdapat di Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, Tabalong, Tapin, Banjar, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara dan Tanah Laut dengan jumlah cadangan sebesar 10.613.225.363 Ton dan jumlah produksi 19.304.201 Ton

c.       Intan

Terdapat di Kabupaten Banjar dan Tanah Laut dengan kandungan sebesar 23.514.000 M3 kerikil berintan.

 

d.      Gamping

Terdapat di kabupaten Tabalong, Tapin, Banjar, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara dan Tanah Laut dengan jumlah cadangan sebesar 10.613.225.363 Ton.

e.       Marmer

Terdapat di kabupaten Tapin dan Tanah Laut dengan jumlah cadangan sebesar 1.188.000 Ton

f.       Pasir Kuarsa

Terdapat di Kabupaten Kotabaru, Banjar, Hulu Sungai Tengah, dan Tanah laut dengan jumlah cadangan sebesar 47.809.305 Ton.

g.      Fospat

Terdapat di Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan dan Kotabaru dengan jumlah cadangan sebesar 151.737 Ton

h.      Kaolin

Terdapat di Kabupaten Tapin, Kotabaru, dan Banjar dengan jumlah cadangan sebesar 14.245.664 Ton

i.        Lempung

Terdapat di seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan jumlah cadangan sebesar 290.000.000 ton

j.        Batu Gunung

Terdapat di Kabupaten Kotabaru, Tabalong, Banjar dan Tanah Laut dengan jumlah cadangan sebesar 644.693.550.000 Ton.

 

5.      Pertanian

Sasaran yang ditetapkan oleh Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan Selatan Tahun Anggaran 2005, seperti tersebut dibawah ini :

Tabel 3.11

Sasaran Pengembangan Pertanian di Kalimantan Selatn

Komoditas Sasaran Komoditas Sasaran
Luas Tanam (Ha)
1. Padi
2. Jagung
3. Kedelai
4. Kacang Tanah
5. Kacang Hijau
6. Ubi Kayu
7. Ubi Jalar
8. Buah-buahan
9. Sayuran

Luas Panen (Ha)
1. Padi
2. Jagung
3. Kedelai
4. Kacang Tanah
5. Kacang Hijau
6. Ubi Kayu
7. Ubi Jalar
8. Buah-buahan
9. Sayuran

478.671
17.204
5.699
16.727
1.690
6.927
2.308
24.750
10.380
454.737
16.385
5.428
15.930
1.609
6.597
2.198
23.570
9.950
Produktivitas (Ku/Ha)
1. Padi
2. Jagung
3. Kedelai
4. Kacang Tanah
5. Kacang Hijau
6. Ubi Kayu
7. Ubi Jalar
8. Buah-buahan
9. Sayuran

Produksi (Ton)
1. Padi
2. Jagung
3. Kedelai
4. Kacang Tanah
5. Kacang Hijau
6. Ubi Kayu
7. Ubi Jalar
8. Buah-buahan
9. Sayuran

33.60
29.49
12.53
11.73
10.99
132.53
100.70
76.00
41.00
1.527.913
48.320
6.800
18.685
1.768
87.429
22.133
179.132
40.795

 

Sebagaimana pada Tabel 3.12 (lampiran) mengenai realisasi volume ekspor Kalimantan Selatan per komoditi dan per negara tujuan tahun 2000-2004 yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Kalimantan Selatan, dapat dilihat bahwa kelompok produk yang telah memasuki pasar ekspor terdiri dari kelompok produk karet alam, kayu, rotan, perikanan, tambang dan kelompok produk lainnya.

Sementara itu, realisasi ekspor produk non migas asal Kalsel kurun waktu November 2005 meningkat sekitar 26 persen dari periode waktu yang sama tahun sebelumnya year of year (YoY). Sedangkan pangsa pasar terbesar masih diserap kawasan Asia dengan total nilai transaksi mencapai Rp137 miliar. Dari sejumlah negara di Asia yang menjadi tujuan ekspor, Jepang menjadi penyerap produk terbesar terutama untuk komoditi karet, rotan, kayu dan hasil laut. Menyusul kemudian Singapura, Thailand, Malaysia, Taiwan dan lain-lain. Sedangkan sisanya secara berurutan diserap negara-negara Eropa, Amerika, Australia dan Oceania, serta sedikit ke Afrika.[12].


[1] Kompas, senin, 15 Agustus 2005.

[2] Soegeng Sarjadi Syndicated, Otonomi: Potensi Masa Depan Republik Indonesia, Jakarta: Centre for Political Studies, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001. hal 719

[6] Buletin JICA di Indonesia Januari 2004, hal. 5

[7] Amir M.S, Strategi Pemasaran Ekspor,Seri Bisnis Internasional No.3, Jakarta: PPM, 2000, hal 101.

[8] Profil Produk Unggulan Kabupaten Kotabaru tahun 2004, Kerjasama Bappeda Kabupaten Kotabaru dengan Badan Pusat Statistik Kotabaru Tahun 2004, Hal 5-11.

[10] ibid

[11] ibid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: