Kalimantan Selatan Sebagai Kawasan Andalan

C. Kalimantan Selatan Sebagai Kawasan Andalan

Kebijaksanaan umum pembangunan daerah ditetapkan untuk membantu daerah-daerah defisit dengan fasilitas-fasilitas negara. Demikianlah pembangunan Indonesia Timur dan daerah-daerah miskin di Jawa dan Luar Jawa didorong untuk menjadi daerah yang membangun dengan potensi ekonominya sendiri.

Salah satu realitas pembangunan adalah terciptanya kesenjangan pembangunan antardaerah dan antarkawasan. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah mencoba untuk melakukan perubahan konsep pembangunan dari pendekatan sektoral ke pendekatan reginal sejak Repelita VI. “ Pendekatan pengembangan wilayah tersebut dilakukan melalui penataan ruang sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 47 taun 1997 tentang Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), yang bertujuan untuk mengembangkan pola dan struktur ruang nasional melalui pendekatan kawasan, dan diimplementasikan melalui penetapan kawasan andalan”[1].

Perbedaan laju pertumbuhan antar daerah menyebabkan terjadinya kesenjangan kemakmuran dan kemajuan antardaerah, terutama antara Jawa dan luar Jawa, antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Salah satu kebijakan yang diambil pemerintah untuk mempersempit ketimpangan regional yaitu diterapkannya kebijakan pembangunan daerah melalui konsep kawasan andalan, yang dilakukan berdasarkan potensi yang dimiliki daerah. Dengan kebijakan tersebut, diharapkan akan terjadi keseimbangan tingkat pertumbuhan dan pendapatan per kapita antarwilayah, sehingga dapat menutup atau paling tidak mempersempit gap perkembangan ekonomi antara daerah Jawa dengan luar Jawa, KBI dan KTI.

Kawasan andalan merupakan areal yang ditetapkan sebagai penggerak perekonomian wilayah (prime mover), yang memiliki kriteria sebagai kawasan yang cepat tumbuh dibandingkan lainnya di suatu propinsi, memiliki sektor unggulan dan memiliki keterkaitan ekonomi dengan daerah sekitar (hinterland). Pertumbuhan kawasan andalan diharapkan dapat membirikan imbas positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah sekitar (hinterland), melalui pemberdayaan sektor/subsektor unggulan sebagai penggerak perekonomian daerah dan keterkaitan antardaerah. Penekanan pada pertumbuhan ekonomi sebagai arah kebijakan penetapan kawasan andalan adalah mengingat “pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu variabel ekonomi yang merupakan indikator kunci dalam pembangunan”.

 

a. Kawasan Andalan: Kasus di Kalimantan Selatan.

Sebagai kawasan yang memiliki potensi untuk tumbuh dibandingkan dari daerah lainnya dalam suatu propinsi, kawasan andalan memiliki faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhannya. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi atau komponen utama pertumbuhan ekonomi yaitu akumulasi modal, pertumbuhan penduduk, dan kemajuan teknologi.

Penempatan kriteria pertumbuhan sebagai dasar penetapan kawasan andalan relevan dengan teori pusat pertumbuhan Perroux yang mengatakan bahwa, pertumbuhan tidak muncul di berbagai daerah pada waktu yang sama. Pertumbuhan hanya terjadi di berbagai tempat yang disebut pusat pertumbuhan dengan intensitas yang berbeda. Dalam kaitannya dengan sektor unggulan, Perroux mengatakan bahwa industri unggulan merupakan penggerak utama dalam pembangunan daerah, dan adanya sektor/subsektor unggulan memungkinkan dilakukannya pemusatan industri yang akan mempercepat pertumbuhan perekonomian, karena pemusatan industri akan menciptakan pola konsumsi yang berbeda antar daerah sehingga perkembangan industri di suatu daerah akan mempengaruhi perkembangan daerah lainnya.

Keterkaitan perekonomian kawasan andalan dengan daerah sekitar sebagai salah satu kriteria penetapannya relevan dengan konsep spesialisasi. Adanya spesialisasi komoditas sesuai dengan sektor/subsektor unggulan yang dimiliki memungkinkan dilakukannya pemusatan kegiatan sektoral pada masing-masing daerah, yang  akan mempercepat pertumbuhan daerah. Menurut Samuelson dan Nordhaus, masyarakat dapat lebih efektif dan efisien jika terdapat pembagian kerja, yang membagi keseluruhan proses produksi menjadi unit-unit khusus yang terspesialisasi. Ekonomi spesialisasi telah memungkinkan terbentuknya jaringan perdagangan antarindividu dan antarnegara yang demikian luas, yang merupakan ciri dari suatu perekonomian maju. Adanya keterkaitan ekonomi (spesialisasi) antardaerah yang mendorong proses pertukaran sesuai kebutuhan masing-masing, akan memungkinkan bergeraknya perekonomian masing-masing daerah secara bersama-sama menuju proses pertumbuhan.

Kawasan andalan propinsi Kalimantan Selatan mengacu pada  Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), terdiri dari kawasan andalan Banjarmasin, Batulicin-Kotabaru, dan Kandangan-Hulu Sungai Selatan. Penentuan kawasan andalan di Propinsi Kalimantan Selatan dituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). Kebijakan lebih lanjut terhadap kawasan andalan Kalimantan Selatan adalah ditetapkannya Batulicin sebagai Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (KAPET)[2].

Dasar hukum pembentukan KAPET adalah KEPPRES No.120 tentang Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia. KAPET merupakan kristalisasi dari ide pengembangan Kawasan Andalan. Prinsip dasar pengembangan KAPET adalah: (1) Pemerataan, pertumbuhan dan pengembangan wilayah; (2) Landasannya adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam waktu singkat dan merupakan input pembangunan minimal dengan hasil maksimal. Untuk seluruh Indonesia, dinyatakan ada 13 KAPET yang mendapat prioritas, daerah-daerah tersebut adalah KAPET Subang di propinsi Nangroe Aceh Darussalam, KAPET Sanggau di propinsi Kalimantan Barat, KAPET Kakab di propinsi Kalimantan Tengah, KAPET Batulicin di propinsi Kalimantan Selatan, KAPET Sasamba di propinsi Kalimantan Timur, KAPET Pare-pare di propinsi Sulawesi Selatan, KAPET Bukari di propinsi Sulawesi Tenggara, KAPET Batui di Sulawesi Tengah, KAPET Manado Bitung di Sulawesi Utara, KAPET Bima di propinsi NTB, KAPET Mbay di propinsi NTT, KAPET Seram di Maluku, KAPET Biak di Irian Jaya[3].

Dengan ditetapkannya beberapa daerah di propinsi ini sebagai kawasan andalan dan kawasan pembangunan ekonomi terpadu maka di harapkan mampu menunjang pengembangan ekspor komoditi non migas dari propinsi ini.

 

b. Kerjasama regional dengan negara-negara ASEAN yang tergabung dalam : Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philipina East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA).

Dalam menentukan lokasi Kawasan Pengembangan Strategis, digunakan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) sebagai referensi utama, termasuk tantangan pengembangan nasional, isu pengembangan (development), dan mekanisme pasar. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah 47 / 1997 (dalam tahap revisi), merupakan acuan utama dalam menentukan Kawasan Pengembangan Strategis. RTRWN telah memilih 108 daerah prioritas di seluruh Indonesia (52 di antaranya berlokasi di bagian timur). Daerah tersebut dibentuk sebagai pusat pertumbuhan, 14 daerah dipilih sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) berdasarkan dearah prioritas dan dianggap sebagai model pembangunan ekonomi regional utama untuk pusat pertumbuhan di Indonesia bagian timur.

Dengan memperhatikan tantangan pengembangan nasional, penentuan Kawasan Pengembangan Strategis turut dimasukkan dalam tren globalisasi, kerjasama antar kawasan, implementasi otonomi daerah, pengembangan daerah perbatasan, dan berbagai macam kepentingan dalam pengolahan sumber daya alam dan pembangunan yang berkelanjutan. Selain itu, dalam menentukan lokasi Kawasan Pengembangan Strategis, di mana hal ini dapat merupakan instrumen kebijakan dalam mengarahkan investasi daerah untuk mendukung pengembangan kawasan, turut diperhatikan perbedaan tingkat pengembangan kawasan baik dalam pengaturan maupun pengembangan sumber daya alam tiap daerah  serta mekanisme pasar

Berdasarkan penjelasan di atas, beberapa faktor penting yang merupakan kriteria dalam menentukan lokasi Kawasan Pengembangan Strategis adalah posisi geografis, sumber daya alam, ketersediaan infrastruktur dan keterkaitan inter-regional. Lokasi geografis merupakan pendekatan atau orientasi terhadap lokasi Kawasan Pengembangan Strategis dalam lokasi pusat domestik maupun internasional. Demikian halnya dengan lokasi sumber daya alam yang menghasilkan proses produksi lebih lanjut dan dapat meminimalkan biaya transportasi. Selain itu, Infrastruktur Regional sangatlah penting untuk menentukan lokasi Kawasan Pengembangan Strategis karena faktor ini sangat potensial dalam mendukung sektor produksi, pasar domestik dan internasional dan kawasan pedalaman. Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam menentukan Kawasan Strategis adalah keterkaitan antar-regional. Faktor ini merupakan kriteria untuk mempercepat pembangunan ekonomi yang memerlukan  keterkaitan antar-regional dalam kawasan tersebut. Trickle Down Effect (efek menetas ke bawah) dimungkinkan terjadi.

Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut, lokasi Kawasan Pengembangan Strategis telah diseleksi sebagai berikut :

A.    Sumatra.

1.      Kawasan Pengembangan Strategis Lhoksumawe dan pedalaman.

2.      Kawasan Pengembangan Strategis Medan dan Pedalaman.

3.      Kawasan Pengembangan Strategis Batam dan pedalaman.

4.      Kawasan Pengembangan Strategis Padang-Pariaman dan pedalaman.

5.      Kawasan Pengembangan Strategis Bandar Lampung, Metro dan pedalaman.

B.     Jawa-Bali.

6.      Kawasan Pengembangan Strategis Jakarta dan pedalaman.

7.      Kawasan Pengembangan Strategis Semarang dan pedalaman.

8.      Kawasan Pengembangan Strategis Surabaya dan pedalaman.

9.      Kawasan Pengembangan Strategis Denpasar dan pedalaman.

C.     Kalimantan

10.  Kawasan Pengembangan Strategis Pontianak dan pedalaman.

11.  Kawasan Pengembangan Strategis Banjarmasin dan pedalaman.

12.  Kawasan Pengembangan Strategis Samarinda-Balikpapan dan pedalaman.

D.    Sulawesi.

13.  Kawasan Pengembangan Strategis Makasar dan pedalaman.

14.  Kawasan Pengembangan Strategis Manado-Bitung dan pedalaman.

E.     Papua dan pulau di bagian timur lainnya.

15.  Kawasan Pengembangan Strategis Biak dan pedalaman.

16.  Kawasan Pengembangan Strategis Timika dan pedalaman.

17.  Kawasan Pengembangan Strategis Kupang dan pedalaman.

Terdapat dua orientasi dalam menentukan lokasi Kawasan Pengembangan Strategis : orientasi ke luar (APEC, EU, dan Australia) dan orientasi ke dalam (perdagangan antar kawasan domestik). Dalam menentukan lokasi tersebut, orientasi pasar global (seperti Uni Eropa, APEC, Timur Tengah, Afrika, dan Afrika Selatan) turut dimasukkan dalam menentukan pengembangan Kawasan Pengembangan Strategis. Kawasan Pengembangan Strategis yang berlokasi di bagian utara Indonesia menjadi pengembangan strategis sebagai pintu gerbang untuk mendukung perdagangan kawasan dengan negara anggota APEC. Sementara itu Kawasan Pengembangan Strategis yang berlokasi di bagian barat Indonesa di fokuskan sebagai pintu gerbang untuk mendukung perdagangan kawasan dengan Uni Eropa, Afrika, Timur Tengah dan Asia Selatan. Di samping itu, Papua dan pulau di kawasan timur merupakan pintu gerbang dalam mendukung perdagangan dengan negara di bagian selatan seperti Australia dan Selandia Baru.

Berdasarkan orientasi tersebut, 17 lokasi Kawasan Pengembangan Strategis di antaranya dapat dibagi menjadi 4 kelompok :

a.       Kawasan Pengembangan Strategis yang merupakan pintu gerbang untuk pasar regional dengan negara anggota APEC adalah : Batam, Pontianak, Samarinda-Balikpapan, Manado-Bitung, dan Biak.

b.      Kawasan Pengembangan Strategis yang merupakan pintu gerbang untuk pasar regional dengan negera anggota Uni Eropa, Timur Tengah dan Asia Selatan adalah : Lhoksumawe, Padang, Medan, dan Batam.

c.       Kawasan Pengembangan Strategis yang merupakan pintu gerbang  untuk pasar regional dengan Australia adalah : Timika, Kupang, dan Denpasar.

d.      Lokasi Kawasan Pengembangan Strategis lainnya dalam pulau yang difungsikan sebagai pusat distribusi utama untuk pasar domestik antara kawasan adalah : Medan, Lampung, Jakarta, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, dan Makasar.

Konsep Kawasan Pengembangan Strategis yang berdasarkan pada kluster daerah prioritas dapat dikembangkan secara ekonomi sebagai acuan dalam pengengembangan daerah kerjasama ekonomi sub-regional (Sub Regional Economic Cooperation/SREC). SREC telah dipromosikan sejak awal 1990-an melalui skema segi tiga pertumbuhan Singapura-Johor-Riau (SIJORI) dan pengembangan lebih jauh dalam kawasan kerja sama dengan beberapa negara sub-regional yang berbeda (misalnya Indonesia-Malaysia-Singapore Growth Triangle/ IMS-GT, Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippines Eastern ASEAN Growth Area/ BIMP-EAGA, dan Australia-Indonesia Development Area/AIDA).

Perbandingan antara SREC, KAPET, dan Kawasan Pengembangan Strategis dilihat dari tujuan, lingkup regional, aktivitas utama, dukungan pemerintah, manajemen dan pengawasan adalah sebagai berikut:

Tabel 3.15.

Perbandingan antara SREC, KAPET, dan Kawasan Pengembangan Strategis.

 

No. Karekteristik KAPET SREC Kawasan Pengembangan Strategis
1 Tujuan Pertumbuhan Ekonomi Regional Kerjasama Regional & Internasional Kesejahteraan nasional, integritas nasional, disparitas inter-regional, pembangunan berkelanjutan.
2 Lingkup Regional Pemerintah Multi Lokal Negara anggota sub-regional Multi propinsi dan daerah: orientasi ke dalam dan keluar
3 Aktivitas Utama Multi Sektor Multi Sektor Komoditas prioritas, industri berbasis teknologi, UKM.
4 Dukungan Pemerintah Pusat – Dana    Operasional

– Fasilitas Perizinan.

– Fasilitas Pajak

– Fasilitas Ekspor.

– Fasilitas Perijinan.

Fiskal/moneter, investasi,perdagangan, transportasi, infrastruktur daerah
5 Manajemen Agen Manajeman Mitra Publik Umum Kerjasama pemerintah pusat regional-daerah.
6 Pengawasan Agen Pengawasan Pembangunan. Tim Koordinasi SREC Badan Koordinasi SREC.


[1] Mudrajad Kuncoro, Ph.D., Otonomi dan Pembangunan Daerah : Reformasi, Perencanaan, Strategi dan Peluang, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2004, hal. 215 – 222

[2] Mudrajad Kuncoro, Ph.D., Otonomi dan Pembangunan Daerah : Reformasi, Perencanaan, Strategi dan Peluang, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2004, hal.215-222

[3] Mudrajad Kuncoro, Ph.D., Otonomi dan Pembangunan Daerah : Reformasi, Perencanaan, Strategi dan Peluang, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2004, hal. 318

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: